Sabtu, 20 September 2014

TUGAS SINTAKSIS BAHASA INDONESIA BAGIAN II : Mengidentifikasikan dan Menganalisis Frasa Endosentrik dan Frasa Eksosentrik di Majalah Wanita KARTINI edisi 21 Agustus - 04 September 2014. Pembimbing: Ermawati S., S.Pd.,M.A.

FRASA ENDOSENTRIK DAN FRASA EKSOSENTRIK
     Frasa Endosentrik ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (M. Ramlan 2005:142).
Frasa endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Frasa endosentrik yang koordinatif;
2. Frasa endosentrik yang atributif;
3. Frasa endosentrik yang apositif.


1. Frasa Endosentrik yang Koordinatif
1) Pada hlm 46 dengan judul NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur dan Sederhana". Dalam kalimat Tangis bahagia, suasana haru langsung menyeruak di kediaman Sudjiatmi, Jalan Pleret Raya No 9 A, Banjarsari, Solo.
Keterangan:
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang koordinatif yang dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Tangis dan bahagia.
Tangis atau bahagia.


2) Pada hlm 78 dengan judul KISAH PEDIH IBU NUR RAHMAH DESIANA Di Tengah Perjuangannya Melawan Kelumpuhan, Harus Merawat Anaknya yang juga Lumpuh. Dalam kalimat Kedua ibu anak ini memiliki semangat yang kuat untuk bangkit dari sakit.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang koordinatif yang dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Ibu dan anak.
Ibu atau anak.


3) Pada hlm 81 dengan judul Oh Mama, Oh Papa..... BERKALI-KALI AKU GAGAL MENIKAH KARENA AYAHKU PUNYA ILMU HITAM . Dalam kalimat, Dengan susah payah aku mengintip punggung ibu dari leher dasternya.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang koordinatif yang dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Susah dan payah.
Susah atau payah.


4) Pada hlm 86 dengan judul Oh Mama, Oh Papa..... BERKALI-KALI AKU GAGAL MENIKAH KARENA AYAHKU PUNYA ILMU HITAM. Dalam kalimat, Tuhan telah membekali kita dengan akal budi sehingga dapat kita manfaatkan untuk berjuang dan tidak menyerah pada segala rintangan yang menghalangi jalan hidup kita ke arah yang lebih baik.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang koordinatif yang dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Akal dan budi.
Akal atau budi.


5) Pada hlm 86 dengan judul Oh Mama, Oh Papa..... BERKALI-KALI AKU GAGAL MENIKAH KARENA AYAHKU PUNYA ILMU HITAM. Dalam kalimat, Secara perlahan dengan penuh kasih sayang utarakan tentang dampaknya terhadap hubungan Anda dengan laki-laki yang hendak menjalin hubungan hingga ke jenjang pernikahan.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang koordinatif yang dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Kasih dan sayang.
Kasih atau sayang.


6) Pada hlm 86 dengan judul Oh Mama, Oh Papa..... BERKALI-KALI AKU GAGAL MENIKAH KARENA AYAHKU PUNYA ILMU HITAM. Dalam kalimat, Keterbukaan di antara suami istri itu mutlak diperlukan agar terhindar dari fitnah dan kesalahpahaman yang menyiksa.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang koordinatif yang dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.
Keterangan :
Suami dan istri.
Suami atau istri.



2. Frasa Endosentrik yang Atributif.
1) Pada hlm 10 dengan judul DIAN ALYAN: Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Panggilan itu lahir karena Kakek seorang yang sangat menyayangi anak-anak yatim.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang atributif yang unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.


2) Pada hlm 11 dengan judul DIAN ALYAN : Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Tapi, saking belajar begitu giat, aku sakit typhus dan harus dirawat, justru pada saat ujian penerimaan mahasiswa baru.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang atributif yang unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.


3) Pada hlm 46 dengan judul NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur, dan Sederhana". Dalam kalimat Raut muka gembira langsung mengembang di wajah Sudjiatmi, ibunda Jokowi ketika putra sulungnya itu dinyatakan sebagai presiden terpilih oleh KPU pada 22 Juli lalu.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang atributif yang unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.


4) Pada hlm 46 dengan judul NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur, dan Sederhana". Dalam kalimat Pesta sederhana menjadi ujub syukur bagi Sudjiatmi untuk mengungkapkan kebahagiaannya saat anaknya dinyatakan sebagai pemenang oleh KPU.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang atributif yang unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.


5) Pada hlm 43 dengan judul Atiqah Hasiholan SESEDERHANA MEMAKNAI HIDUP. Dalam kalimat "Tiba-tiba aku ingat ada satu pulau kecil di Kepulauan Seribu.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang atributif yang unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.


6) Pada hlm 43 dengan judul Atiqah Hasiholan SESEDERHANA MEMAKNAI HIDUP. Dalam kalimat "Di hari H, persiapan make-up dan baju pengantin sudah dikenakan di hotel Ancol.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang atributif yang unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.



3. Frasa Endosentrik yang Apositif.
1) Pada hlm 10 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Ayah mengajarkanku mandiri, sedangkan Ibuku, Aisyah Wahab, selalu khawatir melepasku keluar rumah usia sedini itu.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang apositif yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.


2) Pada hlm 11 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Tahun 2002, putra pertamaku, Adnan Alyan, lahir.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang apositif yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.


3) Pada hlm 11 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Ternyata di sana aku menemukan jodohku, Ashraf Alyan, pria berdarah Mesir yang bekerja di perusahaan yang sama.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang apositif yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.


4) Pada hlm 11 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Tak lama berselang, 16 bulan kemudian, aku kembali hamil hingga dikaruniai anak kedua, Ammar Alyan.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang apositif yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.


5) Pada hlm 16 dengan judul TOKOH PEREMPUAN DIANUGERAHI BINTANG MAHAPUTERA ADIPRADANA DARI PRESIDEN RI ATAS JASA-JASANYA. Dalam kalimat Putri Pahlawan Nasional, J Leimena ini sejatinya adalah pengusaha sukses, pernah menjabat Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DKI.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang apositif yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.


6) Pada hlm 17 dengan judul TOKOH PEREMPUAN DIANUGERAHI BINTANG MAHAPUTERA ADIPRADANA DARI PRESIDEN RI ATAS JASA-JASANYA. Dalam kalimat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amaliasari Gumelar yang juga mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana, berkat jasa-jasanya selama lima tahun terakhir di Kabinet Indonesia Bersatu II.
Keterangan :
Kata yang digarisbawahi pada kalimat di atas termasuk frasa endosentrik yang apositif yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan secara semantik ada unsur yang terpenting yang lebih penting dari unsur lainnya.




Frasa Eksosentrik
1. Frasa yang unsur pertamanya berupa preposisi yang disebut Ekso direktif.
1) Pada hlm 10 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Aku terlahir di Takengon, Aceh.


2) Pada hlm 10 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Di rumah Nenek, aku hidup dengan ajaran agama yang baik.


3) Pada hlm 10 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Prestasiku di sekolah sangat baik bahkan karena nilaiku bagus 3 tahun berturut-turut, dari kelas 1-3, maka aku berhasil masuk Institut Pertanian Bogor tanpa mengikuti seleksi.


4) Pada hlm 11 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Hilang kesempatanku jadi dokter, sehingga aku akhirnya kuliah di IPB.


5) Pada hlm 11 dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Aku tetap ingin kuliah di Fakultas Kedokteran.




2. Frasa Eksosentrik yang unsur pertamanya berupa artikulus yang disebut juga dengan non direktif.
1) Pada hlm 10  dengan judul DIAN ALYAN Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara. Dalam kalimat Ia menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan kecintaan kepada Sang Mahapencipta.


2) Pada hlm 54 dengan judul KEUNIKAN ORANG HUNTUK Keturunan Terakhir Orang Kerdil di Manado. Dalam kalimat Sang pencipta mengasihi kami, maka kami juga mengasihi sesama tanpa pandang asal usulnya.


3) Pada hlm 58 dengan judul Su Meck Jadi Sarjana Setelah 23 Tahun Kehilangan Memori Total Akibat Cedera Otak. Dalam kalimat Di sekolah, misalnya, para siswa harus memperhatikan daftar pelajaran.


4) Pada hlm 71 dengan judul 62 PERSEN PEREMPUAN KARIER KECANDUAN KERJA! Dalam kalimat Para suami memang kepa keluarga tetapi wanita-lah lehernya, lebih powerfull namun tetap berjalan beriring.


5) Pada hlm 104 dengan judul SEMBURAN PASIR SENGGIGI. Dalam kalimat Para pepadu saling melihat dan waspada.


6) Pada hlm 104 dengan judul SEMBURAN PASIR SENGGIGI. Dalam kalimat Wasit menghentikan pertandingan saat si pepadu dengan kepala berdarah tergeletak.


7) Pada hlm 105 dengan judul SEMBURAN PASIR SENGGIGI. Dalam kalimat Dengan senang hati, si penjual jamu itu menjelaskan.


8) Pada hlm 106 dengan judul SEMBURAN PASIR SENGGIGI. Dalam kalimat Para penonton pun ikut bergoyang.


9) Pada hlm 107 dengan judul SEMBURAN PASIR SENGGIGI. Dalam kalimat Kala meletakkan ujung ibu jari di telinga, itu tanda ia siap mendengar apa pun titah Sang Mahakuasa.

Jumat, 19 September 2014

TUGAS SINTAKSIS BAHASA INDONESIA BAGIAN 1 : Pengertian dan Ciri-ciri Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap, dan Keterangan. Pembimbing : Ermawati S, S.Pd., M.A.

1. Subjek
Subjek merupakan unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di samping unsur predikat. Berikut ini ciri-ciri dari subjek:
a. Merupakan jawaban atas pertanyaan Apa atau Siapa.
    Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa atau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata tanya siapa.
Contoh : Kurniawan sedang mengisi KRS.
Siapa yang mengisi KRS?
Kurniawan. Maka Kurniawan adalah subjek.


b. Disertai kata Itu.
     Kebanyakan subjek dalam bahasa Indonesia bersifat takrif (definite). Untuk menyatakan takrif, biasanya digunakan kata itu. Subjek yang sudah takrif misalnya nama orang, nama negara, instansi, atau nama diri lain dan juga pronomina tidak disertai kata itu.
Contoh : Mahasiswa itu sedang berorasi.


c. Didahului kata Bahwa.
     Di dalam kalimat pasif kata bahwa merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya adalah anak kalimat pengisi fungsi subjek. Di samping itu, kata bahwa juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada kalimat yang menggunakan kata adalah atau ialah.


d. Mempunyai keterangan pelengkap Yang.
     Kata yang menjadi subjek suatu kalimat dapat diberi keterangan lebih lanjut dengan menggunakan penghubung yang.


e. Tidak didahului Preposisi.
     Subjek tidak didahului preposisi, seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubjek.


f. Berupa Nomina atau Frasa Nominal.
    Subjek kebanyakan berupa nomina atau frasa nominal. Di samping nomina, subjek dapat berupa verba atau adjektiva, biasanya disertai kata penunjuk itu.



2. Predikat
       Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek. Bagian ini khusus membicarakan ciri-ciri predikat secara lebih terperinci.
a. Jawaban atas pertanyaan Mengapa atau Bagaimana.
     Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan mengapa atau bagaimana adalah predikat kalimat. Pertanyaan sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa nomina penggolong (identifikasi). Kata tanya berapa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa numeralia (kata bilangan) atau frasa numeralia.


b. Kata adalah atau ialah.
      Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Predikat itu terutama digunakan jika subjek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas.


c. Dapat diingkarkan.
     Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini digunakan untuk predikat yang berupa verba atau adjektiva. Di samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga merupakan penanda predikat yang berupa nomina atau predikat kata merupakan.


d. Dapat disertai kata-kata aspek atau modalitas.
     Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.


e. Unsur pengisi predikat.
     Predikat suatu kalimat dapat berupa:
1. Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nomina.
2. Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia.



3. Objek
      Unsur kalimat ini bersifat wajib dalam susunan kalimat aktif transitif yaitu kalimat yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan objek. Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek, sedangkan verba transitif yang memerlukan objek kebanyakan berawal me-. Ciri-ciri objek sebagai berikut :
a. Langsung di belakang predikat.
     Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat.


b. Dapat menjadi subjek kalimat pasif.
     Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya.


c. Tidak didahului preposisi.
     Objek yang selalu menempati posisi di belakang predikat tidak didahului preposisi. Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak dapat disisipkan preposisi.


d. Didahului kata bahwa.
      Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.



4. Pelengkap
      Pelengkap dan objek memiliki kesamaan.
1. Bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat.
2. Menempati posisi di belakang predikat.
3. Tidak didahului preposisi.
     Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap :
a. Di belakang predikat.
     ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
    a) Diah meengirimi saya buku baru.
    b) Mereka membelikan ayahnya sepeda baru.

    Unsur kalimat buku baru, sepeda baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.


b. Tidak didahului preposisi.
     Seperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi. Unsur kalimat yang didahului preposisi disebut keterangan. Ciri-ciri unsur keterangan dijelaskan setelah bagian ini.



5. Keterangan
       Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan.Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk.Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga. Berikut ciri-ciri keterangan:
a. Bukan unsur utama.
      Berbeda dari subjek, predikat, objek, dan pelengkap, keterangan merupakan unsur tambahan yang kehadirannya dalam struktur dasar kebanyakan tidak bersifat wajib.


b. Tidak terikat posisi.
     Di dalam kalimat, keterangan merupakan unsur kalimat yang memiliki kebebasan tempat. Keterangan dapat menempati posisi di awal atau di akhir kalimat, atau di antara subjek dan predikat.

Minggu, 07 September 2014

Analisis Kesalahan Bahasa Tataran Sintaksis (Koran Republika)

1. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Benahi Daftar Pemilih. Pada kalimat "Sekitar 146 juta di antaranya sudah memiliki KTP elektronik (e-KTP) dan dijamin tak bisa lagi digandakan datanya karena sudah diamankan dengan rekaman iris mata dan sidik jari." Kesalahan pada kalimat tersebut ialah kesalahan dalam bidang kalimat tidak berpredikat. Sehingga penulisan kalimat yang bakunya ialah "Sekitar 146 juta di antaranya sudah memiliki KTP elektronik (e-KTP) itu dijamin tak bisa lagi digandakan datanya karena sudah diamankan dengan rekaman iris mata dan sidik jari."

2. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar. Pada kalimat "Perekonomian Indonesia masih memiliki risiko pada 2014." Kesalahan pada kalimat tersebut ialah kesalahan penggunaan preposisi yang tidak tepat. Sehingga penulisan kalimat yang bakunya ialah "Perekonomian Indonesia masih memiliki risiko di tahun 2014.

3. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar. Pada kalimat "Rencana pengurangan pembelian surat utang (tapering off) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS). the Fed, memberi andil atas munculnya risiko tersebut." Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat antara predikat dan objek yang tersisipi. Sehingga penulisan kalimat bakunya yang benar adalah "Rencana pengurangan pembelian surat utang (tapering off) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, memberi andil munculnya risiko tersebut."

4. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar.Pada kalimat "Direktur Grup Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, tapering off kemungkinan akan berlangsung pada Desember 2013 atau Januari 2014." Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat penggunaan istilah asing.

5. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar. Pada kalimat "Risiko selalu akan muncul dan  kita harus cermati ini.," kata Juda dalam diskusi "Tantangan dan Peluang Ekonomi 2014" dengan redaksi Republika, Rabu (23/10). Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat yang tidak  berpredikat. Sehingga penulisan kalimat bakunya yang benar adalah "Risiko selalu akan muncul kita harus cermati ini."

6. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar. Pada kalimat "Pada sisi lain, Parlemen dan Senat AS hanya menyetujui anggaran hingga 15 Januari 2014 dan menaikkan debt ceiling hingga 7 Februari 2014." Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat penggunaan istilah asing.

7. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar. Pada kalimat "BI melihat penundaan pengurangan stimulus dan kesepakatan kenaikan batas utang di AS memberikan dampak positif untuk jangka pendek." Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat tidak berpredikat.

8. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Risiko Ekonomi pada 2014 Masih Besar. Pada kalimat "Dalam rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), Jumat (18/10), Menkeu M Chatib Basri mengatakan, perbaikan neraca transaksi berjalan menjadi perhatian dalam mengantisipasi risiko eksternal dan internal." Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat yang tidak bersubjek.

9. Koran Republika edisi Kamis, 24 Oktober 2013 Hlm 1 dengan judul : Kontroversi Fergie. Pada kalimat "Di bagian atas tertulis "Alex Ferguson", di bagian bawah terdapat tulisan "My Autobiography." Kesalahan pada kalimat tersebut adalah kesalahan dalam bidang kalimat penggunaan istilah asing.

Analisis Kesalahan Bahasa Tataran Morfologi (Majalah Kartini)

          Kaidah atau aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya sudah banyak dibicarakan dalam buku-buku tata bahasa. Dalam pengajaran bahasa di sekolah pun tata cara pembentukan kata sudah diajarkan. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti semua bentukan kata dalam bahasa Indonesia telah dilakukan melalui proses yang benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Dalam kenyataan berbahasa, masih sering kita jumpai bentukan kata yang menyimpang dari kaidah.
         Klasifikasi kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain : (a) penghilangan afiks, (b) bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan, (c) peluluhan bunyi yang seharusnya tidak luluh, (d) penggantian morf, (e) penyingkatan mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-, (f) pemakaian afiks yang tidak tepat, (g) penentuan bentuk dasar yang tidak tepat, (h) penempatan afiks yang tidak tepat pada gabungan kata, dan (i) pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.

1. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 14 dengan judul :Kehilangan 40 Anggota Keluarga dalam Musibah Tsunami Aceh Membuatnya Terpanggil Menjadi Ibu Asuh Anak Yatim di 10 Negara dengan kalimat yang berbunyi "Diharapkan mereka beroleh masa depan yang baik dengan bekal pengetahuan, life skils, dan soft skils." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penggunaan afiks yang tidak tepat. Kata beroleh seharusnya memperoleh.

2. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 16 dengan judul : TOKOH PEREMPUAN DIANUGERAHI BINTANG MAHAPUTERA ADIPRADANA DARI PRESIDEN RI ATAS JASA-JASANYA dengan kalimat yang berbunyi "Dalam kesempatan ini, saya sengaja perkenalkan kakak kandung saya yang memiliki keyakinan berbeda." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penggunaan prefiks yang tidak tepat. Kata perkenalkan seharusnya memperkenalkan.

3. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 46 dengan judul : NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur dan Sederhana" dengan kalimat yang berbunyi "Sukses yang diraih Joko Widodo atau yang akrab dipanggil Jokowi tak lepas dari sosok sang bunda, Sudjiatmi." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penghilangan konfiks ke - an. Kata sukses seharusnya kesuksesan.

4. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 47 dengan judul : NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur, dan Sederhana" dengan kalimat yang berbunyi "Jokowi membeli kaset dan tape dengan uang hasil tabungannya. Karena saat itu uangnya kurang, kemudian saya yang nambahi." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penghilangan konfiks me - kan. Kata nambahi seharusnya menambahkan.

5. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 50 dengan judul : NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur, dan Sederhana" dengan kalimat yang berbunyi "Biasanya Jokowi telepon ke rumah." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penghilangan prefiks me-. Kata telepon seharusnya menelepon.

6. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 50 dengan judul : NY SUDJIATMI, IBUNDA JOKOWI "Saya Berpesan Agar Putraku Tetap Amanah, Jujur, dan Sederhana" dengan kalimat yang berbunyi "Karena saya tidak bawa handphone." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penghilangan prefiks me-. Kata bawa seharusnya membawa.

7. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September 2014 pada Hlm 60 dengan judul : Usia 2 Tahun Tunarungu Tapi Kreativitasnya Tinggi Hingga Lahirkan Buku-buku Best Seller. Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penghilangan prefiks me-. Kata lahirkan seharusnya melahirkan.

8. Majalah Kartini edisi 21 Agustus - 04 September2014 pada Hlm 60 dengan Judul : Usia 2 Tahun Tunarungu Tapi Kreativitasnya Tinggi Hingga Lahirkan Buku-buku Best Seller. Dengan kalimat yang berbunyi "Sering kita dengar frasa 'keterbatasan bukan halangan'." Kesalahan pada kata yang digaris bawahi ialah penghilangan prefiks men-. Kata dengar seharusnya mendengar.


Daftar rujukan : Setyawati, Nanik. 2010. ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA: TEORI DAN PRAKTIK. Surakarta : Yuma Pustaka. Hal : 49 - 73

Analisis Kesalahan Bahasa Tataran Fonologi (Bungkus Makanan)

1. Gambar di samping merupakan contoh dari bungkusan makanan yang terdapat kesalahan pelafalan karena penambahan fonem yaitu fonem vokal /a/
Lafal Baku = Enak
Lafal Tidak Baku = Enaak







2. Gambar di atas merupakan contoh bungkusan makanan yang terdapat kesalahan pelafalan karena perubahan fonem yaitu fonem /e/ dan /f/
Lafal Baku = Kopi
Lafal Tidak Baku = Koffie






3. Gambar di atas merupakan kesalahan bahasa pada perubahan fonem konsonan yaitu fonem /k/ dilafalkan menjadi /q/
Lafal Baku = Ketela
Lafal Tidak Baku = Qtela




4. Gambar di atas merupakan kesalahan bahasa pada penghilangan fonem /h/, /a/, /u/ serta penambahan fonem vokal /o/
Lafal Baku = Hijau
Lafal Tidak Baku = Ijo




5. Gambar di atas merupakan kesalahan bahasa pada penambahan fonem vokal /u/
Lafal Baku = Salut
Lafal Tidak Baku = Saluut



6. Gambar di atas merupakan kesalahan bahasa pada perubahan fonem /s/ dilafalkan fonem /z/
Lafal Baku = Gemes
Lafal Tidak Baku = Gemez

Selasa, 27 Mei 2014

Morfologi lanjut (Prefiks, Infiks, Sufiks, dan Konfiks)

Prefiks
1. ber- + renang = berenang
    ba- + ranang = baranang
Liza suko baranang ka tangah lauik 

2. me- + makan = memakan
    ma- + makan = mamakan
 kabau suko mamakan rumpuik

3. pe- + waris = pewaris
    pa- + waris = pawaris
Herman kini manjadi pawaris tunggal

Infiks
(tidak ditemukan dalam bahasa daerah minang)





Sufiks
1. lepas + -kan = lepaskan
    lapeh + -an = lapehan
Lapehan layang-layang tu kaateh langik

2. memanas + -i = memanasi
    maangek + -an = maangekan
Siti tiok malam maangekan samba

3. ratus + -an = ratusan
    ratuih + -an = ratuihan
Ratuihan panonton mamadati stadion utama

Konfiks
1. peN- + pulang + -an = pemulangan
    pa- + pulang + -an = pamulangan
pamulangan tim kabangaan kami diwarnai tangihan panonton

2. per- + kawin + -an = perkawinan
    pa- + kawin + -an = pakawinan
pakawinan iko bajalan lancar bana

3. ber- + jatuh + -an = berjatuhan
    ba- + jatuah + -an = bajatuahan
Mangga ko bajatuahan di halaman
 

Tugas morfologi lanjut (Numeralia)

 NUMERALIA

Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frasa seperti lima hari, setengah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing lima, setengah, ketiga, dan beberapa.

Pada dasarnya dalam bahasa Indonesia ada dua macam numeralia yaitu numeralia pokok dan numeralia tingkat. 
1. Numeralia Pokok
 a. Numeralia pokok tentu
- Ibu masih punya tiga buah kelapa
   Mandeh masih punyo tigo buah kalapo
- Roni cuma dapat satu piagam dari Prodi Bahasa Indonesia UIR
  Roni cumo dapek ciek piagam dayi Prodi Bahasa Indonesia UIR
- Umur Tante sudah empat puluh lima tahun ini
   Umuah Tante alah ampek puluah limo tahun ko

b. Numeralia pokok kolektif
- Keempat rumah itu disita oleh pengadilan
  Kaampek umah tu disita dek pangadilan
- Ketujuh biro perjalanan itu telah dibekukan
   Katujuah biro parjalanan tu alah dibakuan
- Kedua anak itu yatim piatu
   Kaduo anak tu yatim piatu

c. Numeralia pokok distributif
- Enam-enam (anam-anam)
- Delapan-delapan (lapan-lapan)
- Tiga-tiga (tigo-tigo)

d. Numeralia pokok taktentu
- Banyak orang (banyak urang)
- Sedikit air (saketek aiah)
- Segala penjuru (sagalo panjuru)

e. Numeralia pokok klitika
- Panca namanya anak saya. Dia anakku yang ke lima.
  Panca namonyo anak ambo. Inyo anak ambo nan ka limo
- Eka itu namanya. Dia anakku yang pertama.
  Eka tu namonyo. Inyo anak ambo nan partamo.
- Catur namanya. Dia anakku yang keempat.
  Catur namonyo. Inyo anak ambo nan kaampek.

f. Numeralia pokok ukuran
- Kalau ke toko, belilah dua lusin piring.
  Kalau ka toko, balilah duo lusin piriang.
- Wanita itu membeli kemeja satu kodi.
   Padusi tu mambali kameja ciek kodi.
- Mengapa Anda membeli emas hanya lima gram?
  Manga Anda mambali ameh hanyo limo gram?

2. Numeralia tingkat
- Jawaban kedua itu benar.
  Jawaban kaduo tu batua.
- Pemain ketiga sangat semangat.
   Pamain katigo samangek bana.
- Anak saya kelima.
   Anak ambo kalimo

3. Numeralia pecahan
- Ani menjual gula itu seperempat.
  Ani manjua gulo itu saparampek.
- Kue Budi tinggal separuh.
  Kue Budi tingga saparoh.
- Setengah tali itu milik Romi.
  Satangah tali tu punyo Romi.

4. Frasa numeralia
- Dua ekor (kerbau)
  Duo ikuah (kabau)
- Lima orang (penjahat)
   Limo urang (panjahek)
- Tiga buah (rumah)
   Tigo buah (umah)

 

Morfologi lanjut (Pronomina)


Morfologi Lanjut Bahasa Indonesia
Roziah, S.Pd., M.A.

Pronomina
            Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia, yakni pronomina persona, pronomina penunjuk, dan pronomina penanya.
Pronomina Persona
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu. Ada bentuk yang bersifat eksklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral.
1.      Pronomina persona pertama/kata ganti diri
Kata ganti diri orang pertama tunggal dalam bahasa daerah minang yaitu denai, ambo.
-          Saya akan membawakan laporan itu besok
Ambo bawok an laporan tu bisuak
-          Kejadian kemarin membuat aku lebih berhati-hati lagi
Kajadian patang mambuek denai labiah bahati-hati lai
Persona pertama jamak yaitu kami dan kito.
-          Kedatangan Bapak dan Ibu kemari saja kami sudah senang.
Kadatangan Bapak dan Ibu kamari sajo kami alah sanang.
-          Mari bersama-sama kita pergi ke mesjid.
Mari basamo-samo kito payi ka surau.
2.      Pronomina persona kedua
Persona kedua tunggal mempunyai wujud yaitu kau, ang.
-          Pukul berapa kamu ke Kampus, Nak?
Jam bara kau ka Kampus, Nak?
-          Kapan kerbaumu akan kamu carikan rumput?
Bilo kabau ang nio ang carian rumpuik?
Orang kedua jamak, yaitu kalian.
-          Tugas itu terserah kalian membuatnya.
Tugas tu tasarah kalian mambueknyo.
3.      Pronomina persona ketiga
Ada dua macam persona ketiga tunggal dalam bahasa daerah minang: (1) inyo, nyo dan (2) baliau.
-          Dia membeli sepeda baru
Inyo mambali sapeda baru
-          Rumah kami atapnya bocor
Umah kami atoknyo boco
-          Ayah pergi ke kantor. Beliau memakai baju kemeja
Ayah payi ka kantua.  Baliau mamakai baju kameja

Pronomina Penunjuk
1.      Pronomina Penunjuk Umum
Pronomina penunjuk umum dalam bahasa minang ialah iko, itu. Kata iko mengacu pada acuan yang dekat dengan pembicara/penulis, pada masa yang akan datang, atau pada informasi yang akan disampaikan. Untuk acuan pada yang agak jauh dari pembicara/penulis, pada masa lampau, atau pada informasi yang sudah disampaikan, digunakan kata itu.

-          Buku ini milik Andi
Buku iko miliak Andi
-          Itu menyebabkan penyakit kulit
Itu manyababkan panyakik kulik

2.      Pronomina Penunjuk Tempat
Pronomina penunjuk tempat dalam bahasa minang ialah siko, situ, atau sinan.
-          Kita akan bertolak dari sini.
Kito nio batulak dayi siko
-          Barang-barangnya ada di situ
Barang-barangnya ado di situ
-          Siapa yang mau pergi ke sana?
Siapo nan nio payi ka sinan?

3.      Pronomina Penanya
Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan. Dari segi maknanya, yang ditanyakan itu dapat mengenai (a) orang, (b) barang, atau (c) pilihan. Berikut ini adalah kata penanya:
-          Apa dia sudah datang?
Apo inyo alah tibo?
-          Eka mencari siapa?
Eka mancari sia?
-          Penyanyi itu orang mana?
Panyanyi tu urang ma?
-          Mengapa Anggi tidak masuak?
Manga Anggi indak masuak?
-          Kenapa Adik menangis?
Kenapo Adiak manangih?
-          Kapan/bilamana keluarga Pak Edi akan pindah?
Bilo kaluarga Pak Edi nio pindah?
-          Bagaimana caranya membuat kue ini?
Ba a caronyo mambuek kue ko?
-          Berapa jumlah orang yang tewas akibat kecelakaan sukhoi itu?
Bara banyak urang nan tewas dek kajadian sukhoi tu?